Pendahuluan
Ungkapan, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al-Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al-Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah," merupakan prinsip yang sangat penting dalam agama Islam. Prinsip ini menekankan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits Nabawi sebagai sumber utama dalam beragama, serta kesadaran bahwa manusia, termasuk ulama dan cendekiawan, tidak luput dari kesalahan.
Makna dan Implikasinya
-
Kesadaran akan Keterbatasan Manusia Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap manusia, tak terkecuali ulama atau tokoh agama, memiliki keterbatasan dan kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Hal ini menekankan pentingnya sikap rendah hati dan selalu merujuk pada sumber-sumber utama ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits Nabawi.
-
Kepentingan Verifikasi dan Validasi Prinsip ini juga mengajarkan umat Islam untuk selalu memverifikasi dan memvalidasi setiap ajaran atau pendapat yang diterima. Tidak serta merta menerima setiap perkataan manusia tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Hadits. Ini menunjukkan sikap kritis dan ilmiah dalam beragama, yang mendorong umat untuk selalu mengkaji dan mempelajari sumber-sumber utama ajaran Islam.
-
Menghindari Kultus Individu Dengan mengedepankan prinsip ini, Islam menghindarkan diri dari kultus individu atau pengkultusan tokoh tertentu. Hal ini sangat penting agar tidak ada tokoh yang dianggap tidak bisa salah dan segala perkataannya diikuti tanpa kritik. Setiap individu harus diperlakukan setara di hadapan ajaran Al-Qur'an dan Hadits Nabawi.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
-
Mengambil Hikmah dari Setiap Perkataan Ketika mendengar atau membaca perkataan dari seorang ulama atau tokoh agama, umat Islam hendaknya mengambil hikmah dan manfaat dari perkataan tersebut. Namun, tetap harus dilakukan pengecekan apakah perkataan tersebut sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits Nabawi. Jika sesuai, maka dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak sesuai, maka hendaknya ditinggalkan.
-
Belajar dan Mengkaji Al-Qur'an dan Hadits Umat Islam dituntut untuk selalu belajar dan mengkaji Al-Qur'an dan Hadits Nabawi. Hal ini agar memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang ajaran Islam sehingga dapat membedakan mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, umat akan lebih bijak dalam menyikapi setiap perkataan yang didengar atau dibaca.
-
Bersikap Rendah Hati dan Terbuka Prinsip ini juga mengajarkan untuk selalu bersikap rendah hati dan terbuka terhadap pendapat orang lain. Kesalahan dan kekeliruan adalah hal yang wajar terjadi pada setiap manusia, oleh karena itu saling mengingatkan dan mengoreksi adalah bagian dari proses belajar dan memperbaiki diri dalam beragama.
Kesimpulan
Prinsip "Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al-Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al-Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah" adalah landasan penting dalam beragama Islam. Prinsip ini mengingatkan kita akan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits Nabawi, serta kesadaran akan keterbatasan manusia. Dengan mengamalkan prinsip ini, umat Islam diharapkan dapat lebih bijak dan kritis dalam menyikapi setiap ajaran atau pendapat yang diterima, serta selalu berusaha untuk merujuk pada sumber utama ajaran Islam.